Parepare Bergerak, Aliansi Soroti Korupsi hingga Tuntutan Keadilan Daerah
PAREPARE, CivicLens NEWS — Suara kritik terhadap kondisi nasional bergema dari Kota Parepare. Sejumlah organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Organisasi Masyarakat Sipil Kota Parepare, Kamis (20/8/2026), membawa 10 poin tuntutan yang menyasar persoalan politik, hukum, ekonomi hingga tata kelola pemerintahan.
Aksi yang dipusatkan di Gedung DPRD
Kota Parepare tersebut mengusung tema “Parepare Bergerak Aksi Merdeka
Selamatkan Indonesia”. Massa menilai berbagai persoalan yang terjadi di
tingkat nasional tidak boleh hanya menjadi konsumsi pemberitaan, tetapi harus
mendapat perhatian dan respons nyata dari pemerintah.
Aliansi ini terdiri dari Komunitas
Masyarakat Peduli Bangsa (KMPB), Forum Pembela Umat (FPU), GMKR, MD KAHMI
Parepare, Forum Masyarakat Bahagia (FMB), dan LSM Fokus.
Koordinator aksi sekaligus pembaca 10
Poin Pernyataan Sikap, Muhlis Abdullahi, mengatakan aksi tersebut lahir
dari kegelisahan masyarakat yang merasakan tekanan ekonomi sekaligus melihat
berbagai persoalan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurut Muhlis, kondisi tersebut
tidak terlepas dari kebijakan pemerintahan selama beberapa tahun terakhir. Ia
menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto belum memperlihatkan langkah
yang cukup untuk menghentikan apa yang disebutnya sebagai kebijakan destruktif
dari era kepemimpinan Presiden Joko Widodo selama 10 tahun.
“Kita terpanggil dengan adanya
kondisi Indonesia ini yang semakin parah. Diawali dari kepemimpinan Jokowi
selama 10 tahun dan tidak ada upayanya Pak Prabowo untuk menghentikan segala
bentuk upaya berkuasa tersebut, termasuk meloloskan anaknya, Gibran, menjadi
Wakil Presiden. Korupsi pejabat luar biasa marak dari daerah hingga pusat
mencapai triliunan rupiah, sementara pajak terus naik, listrik naik, dan SPP
mahasiswa di perguruan tinggi sangat tinggi,” tegas Muhlis Abdullah.
Ia menilai persoalan tersebut
semakin dirasakan masyarakat karena terjadi bersamaan dengan meningkatnya
berbagai kebutuhan hidup.
Muhlis mengatakan, aspirasi yang
dibawa dalam aksi tidak hanya disampaikan melalui orasi di hadapan gedung wakil
rakyat. Aliansi juga telah menyiapkan surat pernyataan sikap resmi yang
ditujukan kepada pemerintah pusat di Jakarta.
Menurutnya, langkah tersebut
ditempuh agar aspirasi yang lahir dari daerah dapat diteruskan dan menjadi
perhatian pemerintah pusat.
Namun, Muhlis memberikan peringatan
keras apabila suara daerah terus diabaikan. Ia menyebut tidak menutup
kemungkinan munculnya tuntutan yang lebih jauh sebagai bentuk kekecewaan
masyarakat.
“Kami mengimbau, jika Papua, Aceh,
dan Kalimantan meminta merdeka karena ketidakadilan, maka kami di Sulawesi
minimal Sulawesi Selatan juga siap menuntut merdeka dan memisahkan diri agar
rakyat bisa merasakan keadilan yang merata,” tambahnya.
Rahman
Saleh: Indonesia Dinilai Berada di Pinggir Jurang
Kritik senada disampaikan Rahman
Saleh yang turut tampil menyampaikan orasi dalam aksi tersebut.
Rahman Saleh menilai kondisi
Indonesia saat ini berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. Ia menyoroti
persoalan sosial, ekonomi, korupsi, serta tata kelola pemerintahan yang
menurutnya belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat.
“Kita gelar aksi dengan 10 tuntutan,
Indonesia sudah berada di pinggir jurang. Ini ulah para pejabat negeri ini,”
ujar Rahman Saleh dalam orasinya.
Ia kemudian menyoroti persoalan
korupsi yang dinilainya menjadi salah satu faktor yang semakin membebani
masyarakat.
Rahman Saleh berpandangan, Indonesia
bukanlah negara yang miskin sumber daya alam. Namun, menurutnya, kekayaan
tersebut belum sepenuhnya mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat apabila
masih dibayangi persoalan korupsi dan kebijakan yang dianggap tidak berpihak
kepada rakyat.
“Indonesia bukan negara miskin
sumber daya alam. Tetapi persoalan korupsi dan kebijakan pemerintah yang tidak
berpihak ke masyarakat membuat masyarakat semakin menderita,” katanya.
Tidak hanya persoalan hukum dan
korupsi, Rahman Saleh juga mengkritisi sejumlah program pemerintah yang tengah
berjalan. Di antaranya Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih
(Kopdes), dan Sekolah Rakyat.
Program-program tersebut masuk dalam
sorotan aliansi dan menjadi bagian dari tuntutan agar pemerintah melakukan
evaluasi serta audit secara menyeluruh.
Dari
Evaluasi Pemerintah hingga Pemakzulan Wapres
Aksi yang berlangsung di DPRD
Parepare itu tidak berhenti pada kritik terhadap kondisi ekonomi. Massa juga
membawa sejumlah tuntutan politik dan hukum yang cukup tajam.
Salah satunya adalah desakan kepada DPR/MPR
RI untuk memproses pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Aliansi juga mendesak agar penegakan hukum terhadap mantan Presiden Joko Widodo
dilakukan tanpa pandang bulu.
Dalam pernyataan sikapnya, massa
menilai Pemerintahan Prabowo-Gibran gagal mengemban amanah penderitaan rakyat
dan dinilai masih meneruskan berbagai kebijakan yang mereka anggap sebagai
warisan dari pemerintahan sebelumnya.
Aliansi juga mendesak Presiden
Prabowo Subianto kembali pada visi Indonesia yang kuat dan berdaulat serta
melepaskan diri dari apa yang mereka sebut sebagai pengaruh oligarki, “Geng
Solo”, dan institusi “Partai Cokelat”.
Selain itu, mereka meminta evaluasi
besar-besaran terhadap birokrasi, perampingan kabinet, serta audit total
terhadap sejumlah program pemerintah yang dinilai memiliki potensi menjadi
ladang rente dan korupsi.
Dukung
Shadow Cabinet dan Revolusi Konstitusional
Dalam tuntutan lainnya, Aliansi
Organisasi Masyarakat Sipil Kota Parepare menyatakan dukungan terhadap
pembentukan Shadow Cabinet atau Kabinet Bayangan.
Gagasan tersebut dinilai dapat
menjadi instrumen kontrol moral terhadap pemerintah dengan melibatkan aktivis,
akademisi, dan kalangan cendekiawan kritis.
Aliansi juga menyatakan dukungan
terhadap Dr. Syukur Mandar untuk memimpin gerakan perubahan total dan
gerakan revolusi konstitusional yang mereka nilai diperlukan untuk
menyelamatkan masa depan bangsa.
Sementara pada poin lainnya, massa
menyerukan masyarakat Sulawesi memperjuangkan keadilan distributif dan menolak
pengabaian hak-hak daerah dengan alasan efisiensi anggaran.
Bahkan, dalam dokumen sikap tersebut
dicantumkan seruan “Sulawesi Merdeka” apabila pemerintah dinilai gagal
menciptakan keadilan sosial dan pemerataan bagi daerah.
Di penghujung tuntutan, aliansi juga
mengajak kaum intelektual, akademisi, ulama, dan ustaz untuk tidak memilih diam
menghadapi berbagai persoalan bangsa.
Mereka menyerukan agar kelompok
intelektual dan tokoh agama ikut menyuarakan kebenaran serta memperjuangkan
keadilan bersama masyarakat.
10
Poin Pernyataan Sikap
Secara lengkap, 10 poin yang
dibacakan H. Muhlis Abdullah dalam aksi tersebut meliputi:
- Kegagalan Pemerintahan Prabowo-Gibran — Aliansi menyatakan pemerintahan Prabowo-Gibran telah
gagal mengemban amanah penderitaan rakyat karena dinilai hanya melanjutkan
warisan kerusakan dan kebijakan destruktif dari 10 tahun pemerintahan
sebelumnya.
- Kembali ke Visi Berdaulat — Mendesak Presiden Prabowo Subianto kembali kepada
haluan Indonesia yang kuat dan berdaulat serta bersiap menghadapi
gelombang mosi tidak percaya dan kekuatan rakyat apabila tuntutan tersebut
diabaikan.
- Lepas dari Cengkeraman Oligarki dan “Partai Cokelat” — Menuntut Presiden Prabowo melepaskan diri dari
bayang-bayang “Geng Solo”, oligarki hitam, serta intervensi institusi
“Partai Cokelat” yang menurut mereka mencederai marwah penegakan hukum.
- Evaluasi Birokrasi dan Audit Program Mercusuar — Meminta perombakan tata kelola birokrasi,
perampingan kabinet, serta audit terhadap program seperti MBG, Koperasi
Desa (KOPDES), dan Sekolah Rakyat yang menurut aliansi memiliki indikasi
menjadi ladang rente dan korupsi.
- Pemakzulan Wapres Gibran Rakabuming Raka — Mendesak DPR/MPR RI memproses pemakzulan Gibran
Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden RI karena dinilai lahir dari proses
yang bermasalah secara hukum, etika, dan konstitusi.
- Tangkap dan Adili Joko Widodo — Menuntut penegakan hukum tanpa pandang bulu terhadap
mantan Presiden Joko Widodo sebagai bentuk penerapan prinsip equality
before the law.
- Dukungan Pembentukan Kabinet Bayangan — Mendukung pembentukan Shadow Cabinet yang diinisiasi
aktivis, akademisi, dan cendekiawan kritis sebagai kontrol moral sekaligus
pengawasan terhadap pemerintah.
- Dukungan Kepemimpinan Revolusi Konstitusional — Mendukung Dr. Syukur Mandar untuk memimpin gerakan
perubahan total dan revolusi konstitusional.
- Keadilan Distributif dan Deklarasi “Sulawesi Merdeka” — Menyerukan masyarakat Sulawesi memperjuangkan
keadilan distributif serta menolak pengabaian hak daerah dengan dalih
efisiensi anggaran. Aliansi juga menyerukan “Sulawesi Merdeka” apabila
pemerintah dinilai gagal menciptakan keadilan sosial.
- Seruan kepada Kaum Intelektual dan Agama — Mengajak intelektual, akademisi, ulama, dan ustaz
untuk tidak mengambil sikap diam, tetapi bangkit menyuarakan kebenaran dan
melawan apa yang mereka sebut sebagai kezaliman bersama rakyat.
Surat
Pernyataan Diterima DPRD Parepare
Seluruh aspirasi tersebut kemudian
dituangkan dalam surat pernyataan sikap yang diserahkan kepada pihak DPRD Kota
Parepare.
Surat tersebut diterima Wakil
Ketua DPRD Parepare M. Yusuf Lapanna, didampingi anggota DPRD Parepare Sappe.
Penyerahan dokumen tersebut menjadi
bagian penting dari aksi, karena massa berharap tuntutan yang disampaikan tidak
berhenti sebagai aspirasi jalanan, tetapi dapat diteruskan kepada pemerintah
pusat dan lembaga terkait.
Aksi “Parepare Bergerak Aksi Merdeka
Selamatkan Indonesia” sekaligus memperlihatkan adanya kelompok
masyarakat di daerah yang ingin mengambil bagian dalam menyuarakan persoalan
nasional.
Bagi massa aksi, peringatan HUT
ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak semestinya hanya menjadi momentum
seremonial. Kemerdekaan, menurut mereka, harus diwujudkan melalui pemerintahan
yang mampu menghadirkan keadilan, kepastian hukum, pemerataan pembangunan, dan
kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, termasuk mereka yang berada jauh dari
pusat kekuasaan.
.png)