HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar
X

Pagi di Tengah Sawah Bacukiki, Tradisi Syukuran Tahunan Menyatukan Warga dalam Kebersamaan

PAREPARE, CivicLensNEWS — Sejak pukul 07.00 WITA, suasana berbeda mulai terasa di kawasan Abbineang Malimpoe, Abbanuangnge, Kelurahan Watang Bacukiki, Kota Parepare, Kamis (4/6/2026). Di tengah hamparan sawah  dan udara pagi yang masih sejuk, masyarakat berangsur-angsur berdatangan untuk mengikuti syukuran tahunan yang telah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun masyarakat setempat.

Nonton Videonya Di SINI

Tidak sekadar menjadi agenda rutin, kegiatan tersebut merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat kehidupan, rezeki, kesehatan, serta keberkahan yang dirasakan masyarakat sepanjang tahun. Momen itu juga menjadi ruang pertemuan bagi warga untuk mempererat hubungan kekeluargaan yang selama ini terjalin erat di lingkungan mereka.

Sejak pagi, warga tampak berkumpul dengan membawa berbagai hidangan yang nantinya dinikmati bersama. Anak-anak, orang tua, hingga para tokoh masyarakat larut dalam suasana penuh keakraban. Latar persawahan yang menjadi pusat kegiatan menghadirkan nuansa khas pedesaan yang masih terjaga di wilayah Bacukiki.

Acara diawali dengan pembacaan Barasanji yang berlangsung khidmat. Lantunan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW dan doa-doa yang dipanjatkan bersama menggema di tengah area persawahan, menciptakan suasana religius yang menjadi inti dari pelaksanaan syukuran tersebut.

Bagi masyarakat Bacukiki, tradisi ini bukan hanya tentang berkumpul dan berdoa. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap warisan budaya yang telah dijaga oleh para pendahulu mereka selama puluhan tahun.

Antos, warga yang juga menjabat sebagai Ketua RT 2 Abbanuangnge, mengatakan bahwa syukuran tahunan merupakan tradisi yang selalu dinantikan masyarakat setiap tahun.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bentuk ungkapan syukur atas segala karunia yang diberikan Allah SWT sekaligus sarana memperkuat silaturahmi antarsesama warga. Ia menilai tradisi seperti ini memiliki peran penting dalam menjaga hubungan sosial di tengah masyarakat yang semakin dinamis.

Kehadiran pemerintah kelurahan turut menambah makna kegiatan tersebut. Lurah Watang Bacukiki, Mursal, yang hadir bersama warga menyampaikan apresiasinya terhadap semangat masyarakat dalam mempertahankan adat dan budaya lokal.

Ia menilai tradisi syukuran tahunan merupakan bagian dari identitas masyarakat Bacukiki yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Menurutnya, pelestarian budaya lokal tidak hanya penting untuk menjaga sejarah, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter bagi anak-anak dan generasi muda.

Setelah rangkaian doa dan Barasanji selesai, kegiatan dilanjutkan dengan tradisi Mappadendang yang digelar di tengah pemukiman warga. Suara alu yang menghantam lesung secara bergantian menciptakan irama khas yang menjadi simbol kegembiraan masyarakat Bugis.

Tradisi Mappadendang selama ini dikenal sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas hasil panen dan keberlimpahan rezeki. Lebih dari itu, tradisi tersebut juga menggambarkan semangat kebersamaan karena dimainkan secara gotong royong dan melibatkan partisipasi masyarakat.

Di tengah perkembangan zaman yang terus bergerak cepat, masyarakat Bacukiki tetap menunjukkan komitmennya untuk menjaga tradisi yang diwariskan leluhur. Melalui syukuran tahunan dan Mappadendang, mereka tidak hanya merawat budaya, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai persaudaraan yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.

Bagi warga setempat, tradisi ini adalah pengingat bahwa rasa syukur tidak hanya diucapkan melalui doa, tetapi juga diwujudkan dalam kebersamaan, kepedulian, dan upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Posting Komentar