Menyusuri Jejak Sejarah dan Spiritualitas di Masjid Besar Darussalam Belawa, Ikon Religi Tertua di Wajo
Di tengah suasana yang tenang, kemegahan bangunan masjid langsung menyambut siapa saja yang memasuki kawasan Belawa. Perpaduan arsitektur bernuansa Arab dan Bugis yang melekat pada setiap sudut bangunan menghadirkan pesona tersendiri. Dari kejauhan, lima kubah yang menjadi ciri khas masjid berpadu dengan dua menara di bagian depan, menciptakan panorama yang mudah dikenali sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Namun daya tarik Masjid Besar Darussalam tidak hanya terletak pada keindahan fisiknya. Di balik dinding-dinding yang berdiri kokoh itu tersimpan sejarah panjang perkembangan Islam di Tanah Bugis, yang erat kaitannya dengan perjuangan para ulama dalam menyebarkan dakwah dan pendidikan keagamaan di Sulawesi Selatan.
Masjid ini dibangun pada tahun 1947 atas usulan Anre Gurutta H. Muhammad Yunus Martan, ulama kharismatik yang juga dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren As'adiyah Sengkang. Melalui pemikiran dan perjuangannya, masjid tersebut kemudian tumbuh menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan yang berpengaruh di Kabupaten Wajo.
Lebih dari tujuh dekade sejak pertama kali dibangun, Masjid Darussalam tetap berdiri megah sebagai saksi perjalanan masyarakat Belawa. Bangunan seluas sekitar 1.000 meter persegi yang berdiri di atas lahan mencapai 6.757 meter persegi itu menghadirkan perpaduan arsitektur yang unik, menggabungkan nuansa Timur Tengah dengan kearifan lokal Bugis.
Perpaduan dua budaya tersebut tampak jelas pada bentuk bangunan, ornamen, hingga tata ruang masjid yang menghadirkan kesan megah sekaligus hangat. Lima kubah yang menjulang serta dua menara di bagian depan menjadi ciri khas yang mudah dikenali. Dari kejauhan, siluet masjid tampak menonjol di antara lingkungan sekitarnya, menciptakan panorama yang memikat perhatian siapa pun yang melintas.
Namun daya tarik Masjid Darussalam tidak hanya terletak pada keindahan fisiknya. Banyak pengunjung yang datang mengaku merasakan suasana tenang dan khusyuk begitu memasuki area masjid. Lingkungan yang tertata rapi, udara yang sejuk, serta nilai sejarah yang melekat kuat menjadikan tempat ini sebagai destinasi yang tidak sekadar dikunjungi, tetapi juga direnungi.
Di balik kemegahan bangunannya, tersimpan pula cerita yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satunya berkaitan dengan sebuah sumur tua yang berada tidak jauh dari kompleks masjid. Pada masa lalu, sumur tersebut digunakan sebagai sumber air untuk berwudhu para jemaah.
Seiring berjalannya waktu, berkembang keyakinan di tengah masyarakat bahwa air dari sumur tersebut memiliki keistimewaan tertentu. Sebagian orang meyakini air itu dapat membawa manfaat bagi kesehatan, sementara lainnya mengaitkannya dengan berbagai harapan hidup, termasuk urusan jodoh. Meski demikian, demi menghindari kesalahpahaman dan praktik yang berpotensi mengarah pada keyakinan yang tidak sesuai dengan ajaran agama, pengurus masjid akhirnya menutup akses terhadap sumur tersebut.
Kisah-kisah seperti itu justru menambah warna dalam perjalanan sejarah Masjid Darussalam Belawa, yang hingga kini tetap menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat setempat.
Keistimewaan kawasan ini semakin lengkap dengan keberadaan makam ulama yang dikenal sebagai Liunda Syech Tosagenae. Makam tersebut berada di area sekitar masjid dan menjadi salah satu tujuan ziarah bagi masyarakat yang datang dari berbagai daerah.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Syech Tosagenae merupakan putra asli Belawa yang sejak usia muda berangkat menuntut ilmu agama ke Tanah Arab. Perjalanan keilmuannya berlangsung hingga akhir hayat, karena beliau wafat sebelum sempat kembali ke kampung halamannya di Wajo. Meski demikian, nama dan perjuangannya tetap dikenang oleh masyarakat melalui makam yang kini menjadi bagian dari kawasan religi Masjid Darussalam.
Berlokasi strategis di Jalan Masjid Menge, Kelurahan Lepangeng, Kecamatan Belawa, Masjid Besar Darussalam terus menjadi destinasi yang ramai dikunjungi. Sebagian datang untuk beribadah, sebagian lainnya ingin menyaksikan keindahan arsitektur dan menelusuri jejak sejarah yang tersimpan di dalamnya.
Di tengah perkembangan zaman, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat, tetapi juga menjadi ruang yang menghubungkan generasi masa kini dengan warisan keislaman yang telah tumbuh dan berkembang di Tanah Bugis selama puluhan tahun. Dari kubah-kubah yang menjulang hingga kisah para ulama yang pernah mewarnai perjalanan daerah ini, Masjid Besar Darussalam Belawa terus menjaga denyut sejarah, spiritualitas, dan identitas masyarakat Wajo.
