Reses di Kampung Baru, Suyuti Beberkan Penyebab Sampah Kian Tak Terkendali di Parepare
Lihat Videonya Di SINI
Pertemuan yang dihadiri warga dari berbagai lingkungan itu berlangsung dinamis. Keluhan demi keluhan disampaikan masyarakat, mulai dari tumpukan sampah yang dinilai semakin sulit dikendalikan hingga drainase yang kerap memicu genangan saat hujan turun.
Dalam kegiatan tersebut, Suyuti turut didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Parepare, Ilham Willem. Kehadiran pemerintah daerah dinilai penting agar berbagai aspirasi masyarakat dapat langsung ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas sektor.
Ilham Willem menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjamin pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya bagi warga yang terkendala administrasi BPJS.
“Jangan takut datang ke fasilitas kesehatan hanya karena BPJS tidak aktif. Atas arahan Bapak Wali Kota, tidak ada satu pun faskes yang boleh menolak pasien. Semua harus tetap dilayani. Pemerintah bersama DPRD juga terus menyiapkan anggaran BPJS Pemda agar masyarakat tetap mendapatkan hak pelayanan kesehatan tanpa terhambat urusan administrasi,” tegas Ilo Willem.
Sementara itu Suyuti mengakui, volume sampah di Kota Parepare mengalami peningkatan cukup tajam dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi di antaranya, kembali bergairahnya aktivitas ekonomi masyarakat, terutama sektor UMKM yang kini tumbuh pesat di berbagai titik kota.
Di sisi lain, meningkatnya aktivitas usaha dan ramainya pelaksanaan kegiatan di kawasan jalan protokol belum diimbangi dengan penambahan personel kebersihan di lapangan.
“UMKM kita tumbuh dan aktivitas masyarakat semakin ramai. Dampaknya tentu volume sampah ikut meningkat. Persoalannya, jumlah tenaga kebersihan masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ini yang akan kami dorong agar menjadi perhatian pemerintah,” ujar Suyuti di hadapan warga.
Tak hanya sampah, persoalan drainase juga menjadi sorotan utama dalam reses tersebut. Warga mengeluhkan sedimentasi saluran air yang menyebabkan aliran drainase tidak lagi maksimal ketika curah hujan tinggi.
Suyuti bahkan menyinggung pola pengerjaan drainase yang dinilai lebih menitikberatkan pada aspek estetika dibanding fungsi utama saluran air.
“Banyak drainase sebelumnya hanya ditutup dan dicor tanpa pengerukan sedimen. Akibatnya sekarang terjadi pendangkalan. Pemerintah perlu melakukan pengerukan menyeluruh dan membuat kantong sedimen di beberapa titik agar aliran air tetap lancar,” tegas legislator Partai NasDem itu.
Menurutnya, persoalan sampah dan drainase tidak bisa diselesaikan hanya melalui pemerintah semata. Ia mengajak masyarakat ikut membangun kesadaran kolektif, terutama dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan limbah plastik dari aktivitas usaha kecil.
Ia menilai, perubahan pola hidup masyarakat menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kebersihan kota sekaligus mengurangi risiko banjir di kawasan permukiman warga.
