Di Hari Jadi Parepare, Ramadan Datang: Rindu Umat dan Doa untuk Kota yang Bertumbuh
Tanggal 17 Februari selalu menjadi hari yang istimewa bagi masyarakat Parepare. Spanduk ucapan selamat, postingan di media sosial telah ramai dengan ucapan selamat, doa dipanjatkan untuk kota yang terus bertumbuh, dan kenangan tentang perjalanan panjangnya kembali dikenang. Tahun ini, suasana itu terasa lebih dalam. Di hari ulang tahunnya, Parepare bersiap menyambut Ramadan—bulan suci yang selalu dirindukan.
Ada getaran yang berbeda di udara. Pagi terasa lebih khidmat, sore terasa lebih hangat. Seolah kota ini bukan hanya merayakan pertambahan usia, tetapi juga menyambut tamu agung yang membawa cahaya dan pengampunan.
Beberapa hari menjelang penetapan awal puasa oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, masjid-masjid mulai berbenah. Karpet dibersihkan, dinding dicat ulang, dan pengeras suara diuji agar lantunan ayat suci terdengar lebih jernih. Warga yang biasanya sibuk dengan rutinitasnya, kini mulai menata niat dan harapan.
Ramadan bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah momentum perbaikan. Dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 183, Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Ayat itu seperti mengingatkan bahwa puasa adalah perjalanan spiritual—menuju pribadi yang lebih sabar, lebih peduli, dan lebih bertakwa.
Di pasar, pedagang mulai menambah stok buah dan bahan takjil. Di lorong-lorong perumahan, ibu-ibu berbincang tentang menu berbuka. Anak-anak bertanya dengan penuh semangat, “Berapa hari lagi puasa?”
Namun di balik semua itu, ada makna yang lebih dalam. Di usia yang terus bertambah, Parepare tidak hanya membangun fisik kota—jalan, gedung, dan fasilitas publik—tetapi juga membangun jiwa warganya. Ramadan yang datang bertepatan dengan hari jadi kota seakan menjadi pengingat bahwa pertumbuhan sejati bukan hanya soal pembangunan, tetapi juga tentang akhlak dan iman.
Rindu terhadap Ramadan selalu datang setiap tahun. Rindu itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan kebutuhan batin. Dan ketika ia tiba di hari jadi Parepare, maknanya terasa berlipat: doa untuk diri sendiri berpadu dengan doa untuk kota.
Hari ini, 17 Februari, Parepare tidak hanya meniup lilin usia. Kota ini menengadahkan tangan, menyambut bulan suci dengan harapan yang sama—agar menjadi lebih baik dari hari kemarin.
