HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Berbekal "Siri Na Pacce" : MD KAHMI Parepare Siap Lawan Balik Pelaporan Jusuf Kalla

Pernyataan Sikap MD KAHMI Parepare

Parepare, CivicLensNEWS --- Di sebuah sudut Kota Parepare, tepatnya di Cafe DeLima pada Sabtu, 18 April 2026, suasana yang semula biasa perlahan berubah menjadi penuh ketegangan dan sikap tegas. Sejumlah tokoh yang tergabung dalam Majelis Daerah Korps Alumni HMI (MD KAHMI) Kota Parepare berkumpul, bukan sekadar bersilaturahmi, melainkan merumuskan sikap atas isu yang mereka nilai menyentuh rasa keadilan—pelaporan terhadap Jusuf Kalla oleh 19 organisasi masyarakat atas dugaan penistaan agama.

Lihat Video pernyataan nya Disini 

Bagi mereka, nama Jusuf Kalla bukan sekadar figur publik. Ia adalah simbol pengalaman panjang dalam merawat perdamaian dan kemanusiaan di negeri ini. Itulah yang mendorong MD KAHMI Parepare merasa terpanggil—bukan hanya untuk bersuara, tetapi juga berdiri dalam barisan yang mereka sebut sebagai pembelaan moral.

Nur Azis Thalib, salah satu senior KAHMI Parepare, dengan nada tenang namun penuh penekanan, menyebut bahwa tuduhan terhadap Jusuf Kalla berangkat dari potongan video yang telah mengalami penyuntingan. Ia menilai, narasi yang berkembang telah keluar dari konteks utuh ceramah berdurasi sekitar satu jam, yang kemudian dipersempit menjadi potongan singkat yang memicu kesalahpahaman.

“Ini bukan sekadar persoalan perbedaan pandangan, tetapi sudah mengarah pada pembentukan opini yang berpotensi diskriminatif,” ungkapnya. Ia bahkan mengaitkan respons tersebut dengan nilai lokal masyarakat Bugis, Siri Na Pacce, yang menjunjung tinggi harga diri dan solidaritas. Atas dasar itu, MD KAHMI Parepare berencana melaporkan balik pihak-pihak yang dianggap telah mencemarkan nama baik Jusuf Kalla pada Senin, 20 April 2026.

Nada serupa juga disampaikan Ketua Dewan Pakar MD KAHMI Parepare, H. Dr. Salim Sultan. Ia melihat pelaporan tersebut sebagai bentuk ketidakadilan yang berpotensi mengandung unsur SARA. Baginya, rekam jejak Jusuf Kalla sebagai tokoh perdamaian tidak bisa diabaikan begitu saja oleh potongan informasi yang belum tentu utuh.

Sementara itu, Muchlis Abdullahi berbicara dengan emosi yang lebih terbuka. Ia menilai, ada upaya sistematis untuk menghambat langkah Jusuf Kalla dalam berbagai aktivitas kemanusiaan dan keagamaan. Bahkan, dengan nada penuh semangat, ia menegaskan komitmen untuk terus memperjuangkan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran.

Pernyataan sikap ini dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya H. Rahman Saleh, H. Bachtiar Abubakar, H. Salim Sultan, H. Gufron, H. Gusti Firmansyah, Anju Mandji, Naya Dalfa hingga Muhammad Ali. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa sikap ini bukan sekadar suara individu, melainkan representasi kegelisahan kolektif.

Bagi MD KAHMI Parepare, persoalan ini bukan hanya tentang satu nama, tetapi tentang bagaimana keadilan, kebenaran, dan integritas informasi dijaga. Di tengah derasnya arus informasi digital, mereka mengingatkan—bahwa potongan kecil yang terlepas dari konteks utuh, bisa menjadi percikan yang membesar menjadi api.


Posting Komentar