Mencari Lailatul Qadar di Tengah Perbedaan Penanggalan Ramadhan
Malam Ramadhan selalu menghadirkan nuansa spiritual yang berbeda bagi umat Islam. Semakin mendekati penghujung bulan suci ini, hati kaum beriman semakin terpanggil untuk memperbanyak ibadah, memohon ampunan, dan berharap bertemu dengan malam yang paling agung dalam sejarah spiritual manusia: Malam Lailatul Qadar.
Pada Minggu malam, 15 Maret 2026, setelah waktu Maghrib, umat Islam di Indonesia memasuki fase penting dalam sepuluh malam terakhir Ramadhan 1447 Hijriah. Menurut penetapan Pemerintah bersama Nahdlatul Ulama, malam tersebut merupakan malam ke-26 Ramadhan. Sementara bagi warga Muhammadiyah, malam itu telah memasuki malam ke-27 Ramadhan, salah satu malam ganjil yang diyakini sangat berpotensi sebagai malam turunnya Lailatul Qadar.
Perbedaan ini bukanlah sesuatu yang baru dalam kehidupan umat Islam di Indonesia. Sejak lama, masyarakat Muslim di negeri ini telah terbiasa hidup dengan dua pendekatan penentuan kalender Hijriah yang berbeda, namun sama-sama memiliki landasan ilmiah dan keagamaan yang kuat.
Dalam Al-Qur'an, Allah menjelaskan keagungan malam ini melalui Surah Al-Qadr, bahwa Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan. Artinya, satu malam ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dapat bernilai lebih dari delapan puluh tahun amal manusia. Inilah malam yang menjadi harapan seluruh umat Islam.
Akar Perbedaan Metodologi
Perbedaan antara Muhammadiyah dan pemerintah/NU pada dasarnya berakar pada metode penentuan awal bulan Hijriah.
Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yakni penentuan awal bulan melalui perhitungan astronomi. Selama telah terjadi konjungsi (ijtima’) sebelum matahari terbenam dan posisi bulan sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, maka menurut metode ini bulan baru telah dimulai.
Pendekatan ini memberikan kepastian ilmiah dan prediktabilitas kalender yang dapat diketahui jauh hari sebelumnya.
Sementara itu, pemerintah melalui sidang isbat bersama para ulama dan pakar astronomi menggunakan pendekatan hisab dan rukyat. Pendekatan ini juga menjadi tradisi yang dijalankan oleh Nahdlatul Ulama, yaitu dengan mengombinasikan perhitungan astronomi dan pengamatan langsung hilal.
Jika hilal terlihat setelah matahari terbenam, maka ditetapkan sebagai awal bulan baru. Namun jika tidak terlihat, maka bulan sebelumnya disempurnakan menjadi tiga puluh hari.
Metode ini bersandar pada praktik yang dilakukan oleh Muhammad ketika menentukan awal Ramadhan dan Syawal.
Perbedaan yang Mencerminkan Kekayaan Ijtihad
Perbedaan ini pada hakikatnya bukanlah pertentangan, melainkan keragaman ijtihad dalam memahami dalil dan metodologi syariat.
Muhammadiyah menekankan kepastian ilmiah melalui astronomi modern, sementara NU mempertahankan tradisi rukyat yang telah diwariskan dari praktik Nabi. Kedua pendekatan tersebut memiliki legitimasi keilmuan dan niat yang sama, yaitu menjaga ketepatan waktu ibadah umat Islam.
Perbedaan inilah yang kemudian menyebabkan perbedaan penomoran malam Ramadhan. Ketika satu kelompok telah memasuki malam ke-27, kelompok lain mungkin masih berada pada malam ke-26.
Namun secara substansi, perbedaan ini tidak mengurangi semangat umat Islam untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan ibadah yang lebih khusyuk.
Esensi Lailatul Qadar: Bukan Sekadar Tanggal
Yang perlu dipahami oleh umat Islam adalah bahwa Lailatul Qadar bukanlah sekadar persoalan angka atau tanggal. Dalam berbagai riwayat hadis, Nabi menganjurkan umatnya untuk mencari malam tersebut pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Anjuran ini menunjukkan bahwa hakikat Lailatul Qadar bukanlah sekadar diketahui secara pasti, melainkan dicari dengan kesungguhan ibadah.

